Menikah (Bukan) Untuk Bahagia

Menikah (Bukan) Untuk Bahagia

Dunia BAHAGIA Akhirat Surga” itulah kalimat tujuan pernikahan yang saya post, kemudian di protes suami.

“Bukan Bahagia dami, tapi BERKAH, kita kan sudah sepakat.”

Ah, ya beberapa bulan kemarin suami saya ngasih saya “kuliah sufi” nya tentang makna bahagia. Suami saya punya kebiasaan memberikan apa pembelajaran yang dia dapat yang perlu saya ketahui; bisa dari nonton kajian ulama, juga hasil baca buku-buku tebalnya. Saat kayak gitu, saya selalu bilang dia seperti sufi, oleh karena kata2 super rumitnya, bagi saya istrinya, yang memang butuh waktu lebih dari sebulan memahami pembelajaran yang dia sampaikan. (Maafkan istrimu yang gak “fast learner” ya bii ???)

 

Saat itu ia memaparkan bahwa kita perlu mengubah “tujuan hati” rumah tangga kami; bukan untuk meraih bahagia melainkan meraih “berkah” dari-Nya. Karena bila bahagia dijadikan “tujuan hati”, maka kita akan merasa kelelahan dan jauh dari rasa syukur. Sedangkan bila “berkah” yang dijadikan tujuan hati pernikahan, maka setiap “emosi hati” yang kita rasakan, positif ataupun negatif, akan menambah kesyukuran, dan syukur itu yang mendekatkan kita pada keberkahan.

 

Waktu awal dia menyampaikannya, saya tidak begitu memahami. Hanya manggut-manggut kepala dan bilang “Oke, Dami cerna dulu yaa, tapi gak janji pahamnya kapan ? Kemudian semenjak itu Allah menunjukkan saya pada hari-hari untuk memahami itu semua.

 

Hampir setiap hari saya menjalani rutinitas di rumah sebagai ibu rumah tangga yang itu-itu saja. Saking terbiasanya, ada beberapa momen dirasakan “flat” tanpa perasaan spesial di dalamnya. Kemudian ada rasa “bahagia” di saat ada moodbooster yang membuat senyum terangkat hingga tertawa. Lalu tak ayal emosi meninggi di saat kelakukan anak begitu menguji. Juga terkadang menangis karena hampir menyerah setiap ada “tantangan” yang serasa berat dan sulit dilewati. Segala macam perasaan tumpah ruah, berputar itu-itu saja sebenarnya. Seperti roda yang berputar kadang di atas, di samping, di bawah. Kadang melewati jalan mulus tanpa halangan, kadang jalan berbatu bahkan jalan dipenuhi air kotor bisa ia lewati.

 

Hingga saya merasa bahwa “saya lelah.” Lelah wajar dong? Tapi kalau lelah yang teramat sangat dan mempengaruhi keikhlasan dalam menjalani semuanya, ini tidak wajar. Kemudian saya sering mengeluh. Mengeluh wajar dong? Tapi kalau mengeluh hampir setiap saat hingga melupakan diri dari kata “syukur”, ini tidak wajar. Lalu saya merasa sedih. Sedih wajar dong? Tapi kalau kesedihan berlarut hingga menghilangkan senyum dari wajah kita, dan berdampak pada perubahan sikap pasangan dan anak-anak kita, tentu ini bukan suasana keluarga yang diharapkan.

Dengan menyadari bahwa “Berkah” yang jadi tujuan hati kita setiap harinya, akan membuat kita lebih menghargai setiap aktifitas yang kita lakukan perdetiknya. Akan lebih menghargai dinamika setiap perasaan kita di waktu yang ada. Kita adalah tuan dari perasaan kita sendiri, yang sangat bisa mengendalikan kapan berlangsungnya setiap emosi yang ia terima. Bahagia disyukuri dan siapkan hati akan berganti dengan emosi lainnya, sedih disyukuri dan tak usah berlarut terlalu lama.

 

Dengan menyadari bahwa “Berkah” yang jadi tujuan hati kita setiap harinya, tak mudah membuat kita lelah di saat yang namanya “bahagia” dan emosi positif lainnya tidak kita rasa. Karena setiap momen sakit, luka, sedih, resah, gundah, dan berbagai macam emosi negatif lainnya pun, kita terima dengan lapang dada; membuat perubahan yang lebih baik sekecil apapun, untuk diri kita khususnya.

 

Sehingga, bukan hanya momen menyenangkan saja yang membuat kita bersyukur atas kehadiran pasangan dan anak-anak kita. Melainkan momen menyedihkan dan menyakitkan sekalipun, akan membuat kita bersyukur pada Allah, bahwa Dia begitu Maha pengasih masih menyediakan kita ruang untuk merenungi hikmah-Nya.

 

Duhai istri dan suami;
merasa lelah itu wajar lantas ayo bangkit kembali di saat energi telah full kembali.
merasa lemah itu wajar lantas ayo fokus pada kekuatan diri untuk berjuang demi keluarga ini.
merasa tak ‘hebat’ itu wajar lantas ingat kembali bahwa suami istri diciptakan untuk saling melengkapi.

 

Apabila kita mau sedikit saja merendahkan hati; betapa setiap jatuh bangun yang kita rasakan dalam menjalani kehidupan ini, justru membentuk diri kita yang lebih kuat, dan lebih siap menghadapi tantangan demi tantangan ke depan. Tak melulu harus bahagia, yang penting dapat berkah-Nya.

 

: karena bahagia hanya ditentukan hati dan kepuasan diri; sedangkan BERKAH mutlak dari-Nya tak ada yang bisa membeli.

“Berkah itu di saat bertambahnya kebaikan di setiap kondisi”. -Ustadz Salim A.Fillah

#NoteToMySelf #BuatNoyorKepalaSendiri
Dari seorang Istri yang terus belajar mencari berkah Allah, dari keridhaan suaminya :’)
-Foezi Citra Cuaca Elmart-